Nabi Yusuf AS - Kesedihan Karena Dikhianati
Nabi Yusuf AS - Kesedihan Karena Dikhianati Di dasar sumur yang gelap dan dingin itu, Nabi Yusuf AS duduk sendirian. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dinginnya batu-batu lembap, tetapi karena hatinya hancur oleh pengkhianatan yang tak pernah ia bayangkan datang dari darah dagingnya sendiri. Beberapa saat lalu, mereka masih memanggilnya adik. Beberapa saat lalu, ia masih berjalan bersama mereka dengan harapan dan kepercayaan penuh. Namun kini, suara tawa dan langkah kaki para saudaranya menjauh, meninggalkannya di kedalaman sumur—seolah hidupnya tak lagi berharga. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi tanah. Bukan karena takut mati, tetapi karena sakitnya dikhianati oleh orang yang paling ia cintai. Ia teringat wajah ayahnya, Nabi Ya’qub AS—pelukan hangat yang kini terasa begitu jauh. “Wahai Ayah…,” bisiknya lirih, “jika Engkau tahu betapa sepinya aku di sini…” Di atas sana, cahaya hanya masuk sedikit, memperlihatkan bayangan para saudaranya yang berdiri tanpa belas kasih...