Rahmat & Kebencian - Kisah Rasulullah
Ketika Rahmat Lebih Besar Dari Kebencian
Madinah hari itu tidak sepenuhnya berduka. Kabar wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh munafik yang paling sering menyakiti Rasulullah-menyebar cepat.
Sebagian orang menarik napas lega. Lidah-lidah berbisik,
"Akhirnya ia pergi."
Tidak sedikit yang berharap jenazahnya dilewati tanpa doa, tanpa penghormatan.
Abdullah bin Ubay bukan orang biasa. Dialah yang paling sering memecah barisan kaum Muslimin, menebar fitnah, dan melukai hati Rasulullah dengan kata-kata yang kejam. Dari dialah bermula banyak luka dalam sejarah Madinah.
Namun ketika nyawanya benar-benar pergi, sesuatu yang tak disangka justru terjadi.
Rasulullah berdiri.
Beliau mendatangi jenazah itu. Bukan dengan wajah puas, bukan pula dengan dendam yang akhirnya terbalas. Hati Nabi tidak diciptakan untuk bersorak di atas keburukan orang lain.
Ketika anak Abdullah bin Ubay datang meminta agar ayahnya dishalati, Rasulullah tidak menolak. Bahkan beliau meminta kain kafan-dan memberikan gamis beliau sendiri untuk membungkus tubuh orang yang sepanjang hidupnya menentang beliau.
Langkah Rasulullah menuju jenazah itu membuat Madinah terdiam.
Umar bin Khattab رضي الله عنه berdiri. Dadanya bergemuruh. la mendekat dan memegang baju Rasulullah.
"Wahai Rasulullah,"
katanya dengan suara tertahan,
"ia telah menyakitimu. la memfitnahmu. la memecah umat. Mengapa engkau masih menshalatinya?"
Rasulullah menatap Umar.
Tatapan itu bukan tatapan marah, melainkan tatapan seorang Nabi yang memikul beban umatnya. Dengan suara yang tenang, beliau berkata bahwa Allah telah memberinya pilihan untuk memintakan ampun atau tidak. Selama pintu itu belum ditutup oleh wahyu, Rasulullah memilih berdiri di sisi harapan, bukan kebencian.
Beliau pun menshalatkannya. Di hadapan jenazah seorang munafik, Rasulullah berdiri memohonkan ampun. Bukan karena beliau menyetujui kemunafikan itu, tetapi karena rahmat dalam diri Nabi lebih besar daripada luka pribadi. Di saat banyak hati dipenuhi lega, hati Rasulullah justru dipenuhi harap, harap agar Allah masih berkenan mengampuni, meski manusia telah menyerah.
Tak lama setelah itu, wahyu turun. Allah menegaskan bahwa setelah peristiwa ini, Rasulullah tidak lagi diperkenankan menshalati orang-orang munafik. Maka berhentilah pilihan itu. Hukum pun ditegakkan.
Namun sebelum larangan itu datang, Rasulullah telah mengajarkan satu pelajaran besar kepada dunia: bahwa akhlak tidak diukur dari bagaimana kita memperlakukan orang yang mencintai kita, tetapi bagaimana kita bersikap kepada orang yang menyakiti kita.
Air mata Rasulullah tidak jatuh karena membenarkan kemunafikan, melainkan karena hati beliau selalu berharap manusia kembali, bahkan hingga napas terakhir. Sebab beliau diutus bukan untuk membalas luka, tetapi untuk menyampaikan rahmat, selama langit belum menutup pintunya.
catatan:
Kisah ini diriwayatkan secara sahih dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, tentang Rasulullah yang menshalati Abdullah bin Ubay bin Salul sebelum turunnya larangan dalam QS. At-Taubah: 84.
Madinah hari itu tidak sepenuhnya berduka. Kabar wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh munafik yang paling sering menyakiti Rasulullah-menyebar cepat.
Sebagian orang menarik napas lega. Lidah-lidah berbisik,
"Akhirnya ia pergi."
Tidak sedikit yang berharap jenazahnya dilewati tanpa doa, tanpa penghormatan.
Abdullah bin Ubay bukan orang biasa. Dialah yang paling sering memecah barisan kaum Muslimin, menebar fitnah, dan melukai hati Rasulullah dengan kata-kata yang kejam. Dari dialah bermula banyak luka dalam sejarah Madinah.
Namun ketika nyawanya benar-benar pergi, sesuatu yang tak disangka justru terjadi.
Rasulullah berdiri.
Beliau mendatangi jenazah itu. Bukan dengan wajah puas, bukan pula dengan dendam yang akhirnya terbalas. Hati Nabi tidak diciptakan untuk bersorak di atas keburukan orang lain.
Ketika anak Abdullah bin Ubay datang meminta agar ayahnya dishalati, Rasulullah tidak menolak. Bahkan beliau meminta kain kafan-dan memberikan gamis beliau sendiri untuk membungkus tubuh orang yang sepanjang hidupnya menentang beliau.
Langkah Rasulullah menuju jenazah itu membuat Madinah terdiam.
Umar bin Khattab رضي الله عنه berdiri. Dadanya bergemuruh. la mendekat dan memegang baju Rasulullah.
"Wahai Rasulullah,"
katanya dengan suara tertahan,
"ia telah menyakitimu. la memfitnahmu. la memecah umat. Mengapa engkau masih menshalatinya?"
Rasulullah menatap Umar.
Tatapan itu bukan tatapan marah, melainkan tatapan seorang Nabi yang memikul beban umatnya. Dengan suara yang tenang, beliau berkata bahwa Allah telah memberinya pilihan untuk memintakan ampun atau tidak. Selama pintu itu belum ditutup oleh wahyu, Rasulullah memilih berdiri di sisi harapan, bukan kebencian.
Beliau pun menshalatkannya. Di hadapan jenazah seorang munafik, Rasulullah berdiri memohonkan ampun. Bukan karena beliau menyetujui kemunafikan itu, tetapi karena rahmat dalam diri Nabi lebih besar daripada luka pribadi. Di saat banyak hati dipenuhi lega, hati Rasulullah justru dipenuhi harap, harap agar Allah masih berkenan mengampuni, meski manusia telah menyerah.
Tak lama setelah itu, wahyu turun. Allah menegaskan bahwa setelah peristiwa ini, Rasulullah tidak lagi diperkenankan menshalati orang-orang munafik. Maka berhentilah pilihan itu. Hukum pun ditegakkan.
Namun sebelum larangan itu datang, Rasulullah telah mengajarkan satu pelajaran besar kepada dunia: bahwa akhlak tidak diukur dari bagaimana kita memperlakukan orang yang mencintai kita, tetapi bagaimana kita bersikap kepada orang yang menyakiti kita.
Air mata Rasulullah tidak jatuh karena membenarkan kemunafikan, melainkan karena hati beliau selalu berharap manusia kembali, bahkan hingga napas terakhir. Sebab beliau diutus bukan untuk membalas luka, tetapi untuk menyampaikan rahmat, selama langit belum menutup pintunya.
catatan:
Kisah ini diriwayatkan secara sahih dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, tentang Rasulullah yang menshalati Abdullah bin Ubay bin Salul sebelum turunnya larangan dalam QS. At-Taubah: 84.
