Postingan

Rindu Rasul

Oleh: ALR Jaya Bakti, 25 Spt 2026 Aku datang sedikit terlambat, ya Rasul... terlalu sedikit terlambat untuk berjalan di samping engkau di jalan-jalan sempit kota Madinah. Ketika aku lahir, abad telah lama memisahkan kita. Tak ada lagi suara sandalmu di pasir, tak ada lagi wajah teduhmu yang menyapa para sahabat dengan senyum penuh rahmat. Dan itu menyakitkan. Sebab bagaimana mungkin aku merindukan seseorang yang bahkan tak pernah kutemui. Kadang aku iri kepada Abu Bakar yang menemanimu dalam gua, iri kepada Bilal yang mendengar suaramu setiap hari, bahkan iri kepada angin Madinah yang pernah menyentuh jubahmu. Sedangkan aku. Hanya mampu mengenalmu dari cerita dan tetesan air mata. Malam-malam tertentu rinduku terasa begitu asing. Aku membaca sholawat perlahan, lalu tiba-tiba dadaku sesak seakan ada kerinduan besar yang tak mampu dijelaskan pada dunia. Andai waktu dapat dibelah. aku ingin hidup walau sehari saja di zamanmu. Aku ingin melihat bagaimana matamu menatap seoran...

MISTERI ILMU LADUNI

Gambar
  MISTERI ILMU LADUNI — ILMU YANG ALLAH ﷻ AJARKAN KEPADA HAMBA-NYA Ilmu Laduni sering dibicarakan sebagai ilmu khusus yang diberikan Allah ﷻ kepada seseorang tanpa proses belajar biasa. Namun, dalam Islam kita perlu berhati-hati: istilah “ilmu laduni” memang memiliki dasar dari kisah dalam Al-Qur’an, tetapi banyak klaim tentangnya di masyarakat tidak memiliki dalil yang kuat. Dasarnya terdapat dalam kisah Nabi Musa عليه السلام dan seorang hamba Allah yang diberi ilmu khusus dalam QS. Al-Kahfi ayat 65–82. Dalam ayat 65, Allah ﷻ berfirman: > “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65) Tokoh tersebut dikenal dalam penjelasan para ulama sebagai Al-Khadhir/Khidr عليه السلام. • Apa maksud “ilmu dari sisi Kami”? Ungkapan مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا — min ladunnā ‘ilman berarti ilmu yang Allah ﷻ ajarkan dari sisi-Nya. Karena itu, istil...

Karomah Mbah Mangli

Gambar
Pernahkah kalian membayangkan seorang ulama berbicara di hadapan ribuan orang… tanpa mikrofon, tanpa pengeras suara, tetapi suaranya tetap terdengar hingga ke barisan paling belakang? Kisah seperti inilah yang melekat pada sosok Mbah Mangli, atau KH. Hasan Asy'ari, ulama kharismatik yang dikenal luas oleh masyarakat Magelang, Jawa Tengah. Nama Mbah Mangli tidak hanya dikenang karena dakwahnya, tetapi juga karena berbagai kisah karomah yang berkembang di tengah para santri dan jamaahnya. Salah satu kisah yang paling terkenal adalah tentang suara beliau. Konon, ketika memberikan pengajian di tengah ribuan jamaah yang berdesakan, Mbah Mangli tidak menggunakan pengeras suara. Namun, suara beliau dipercaya tetap terdengar jelas oleh jamaah yang berada cukup jauh. Benarkah suara itu memiliki kekuatan istimewa? Tidak ada bukti ilmiah yang dapat memastikan kisah tersebut. Tetapi bagi para pengikutnya, pengalaman itu dianggap sebagai salah satu bentuk karomah seorang wali atau ulama saleh. ...

Kebranian Tertinggi

Gambar
  Kutipan ini mengingatkan bahwa keberanian tidak selalu tampak dalam bentuk tindakan besar atau heroik. Ada keberanian yang jauh lebih sunyi, tetapi justru lebih sulit dilakukan, yaitu keberanian untuk menjadi diri sendiri. Di tengah dunia yang penuh tuntutan, penilaian, dan tekanan untuk menyesuaikan diri, mempertahankan jati diri sering kali menjadi perjuangan yang tidak kalah berat daripada menghadapi musuh di medan perang. Banyak orang berani berbicara di depan ribuan manusia, tetapi takut mengungkapkan apa yang benar-benar mereka yakini. Ada yang tampak percaya diri di hadapan publik, tetapi diam-diam menjalani kehidupan yang dibentuk oleh harapan orang lain. Mereka mengenakan "topeng" yang berbeda-beda di setiap lingkungan, bukan karena munafik, tetapi karena takut ditolak jika menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. Ketakutan seperti ini sangat manusiawi. Setiap orang ingin diterima dan dihargai. Namun, ketika seluruh hidup hanya diarahkan untuk memenuhi ekspektasi ...

Bahagia & Duka itu TAMU

Gambar
  Kutipan ini mengajarkan salah satu kebijaksanaan terdalam dalam perjalanan spiritual: jangan menjadikan keadaan batin yang sementara sebagai identitas dirimu. Baik kebahagiaan maupun kesedihan adalah bagian dari kehidupan. Keduanya datang, tinggal sejenak, lalu pergi. Yang membuat seseorang menderita bukan semata-mata karena kesedihan datang, melainkan karena ia berusaha mempertahankannya atau menolak melepaskannya. Rumi menggunakan metafora yang indah. Ia menyebut duka dan bahagia sebagai tamu. Seorang tamu memang patut disambut dengan baik, tetapi tidak setiap tamu harus dipersilakan menetap selamanya. Kesedihan tidak perlu diusir seolah-olah ia musuh, dan kebahagiaan tidak perlu dirantai agar tidak pergi. Terimalah keduanya sebagai bagian dari perjalanan hidup, tanpa menjadikan salah satunya sebagai penghuni tetap di dalam hati. Sering kali manusia terlalu melekat pada emosinya. Ketika bahagia, ia merasa keadaan itu akan berlangsung selamanya. Ketika sedih, ia merasa hidupnya ...

Hukum Maulid Nabi

Gambar
  Ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki ini menjelaskan pandangan bahwa Maulid Nabi bukan ibadah mahdhah yang tata caranya ditentukan secara khusus seperti salat, tetapi sebuah tradisi yang dapat menjadi sarana untuk melakukan berbagai kebaikan. Dalam pandangan ini, peringatan Maulid dipahami sebagai ungkapan kegembiraan dan syukur atas kelahiran Rasulullah ﷺ, sosok yang membawa rahmat, petunjuk, dan ajaran Islam kepada umat manusia. Dasar semangat tersebut dikaitkan dengan firman Allah: “Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus: 58) Rasulullah ﷺ sendiri disebut sebagai rahmat bagi seluruh alam dalam QS. Al-Anbiya: 107. Karena itu, Maulid dapat diisi dengan kegiatan yang memiliki nilai kebaikan, seperti membaca sirah Nabi, bershalawat, bersedekah, memberi makan, dan mempelajari akhlak serta perjuangan Rasulullah ﷺ. Namun, penting membedakan antara ibadah mahdhah dan tradisi keagamaan. Sesuatu...

Jo Kakean SAMBAT Malah Ngurangi NIKMAT

Gambar
  Ungkapan ini mengajarkan tentang menjaga kehormatan diri, kesabaran, dan menjadikan Allah sebagai tempat pertama untuk mengadukan segala kesulitan. Bukan berarti manusia dilarang bercerita, tetapi jangan sampai keluhan membuat hati bergantung kepada makhluk dan melupakan pertolongan Allah. “Jangan sekali-kali engkau mengeluhkan keadaanmu kepada siapa pun” mengingatkan bahwa tidak semua penderitaan harus diumbar. Ada masalah yang lebih baik disimpan sebagai doa dan pengaduan kepada Allah, karena Dia mengetahui luka yang bahkan tidak mampu kita jelaskan kepada manusia. Ketika terlalu sering mengeluh kepada manusia, kita bisa tanpa sadar menggantungkan harapan kepada mereka. Padahal manusia memiliki keterbatasan; mereka mungkin mampu mendengarkan, tetapi tidak selalu mampu menyelesaikan apa yang sedang kita hadapi. Allah berfirman melalui perkataan Nabi Ya'qub: “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku...” (QS. Yusuf: 86) Namun, bukan berarti meminta bantuan kepad...