Bahagia & Duka itu TAMU
Kutipan ini mengajarkan salah satu kebijaksanaan terdalam dalam perjalanan spiritual: jangan menjadikan keadaan batin yang sementara sebagai identitas dirimu. Baik kebahagiaan maupun kesedihan adalah bagian dari kehidupan. Keduanya datang, tinggal sejenak, lalu pergi. Yang membuat seseorang menderita bukan semata-mata karena kesedihan datang, melainkan karena ia berusaha mempertahankannya atau menolak melepaskannya. Rumi menggunakan metafora yang indah. Ia menyebut duka dan bahagia sebagai tamu. Seorang tamu memang patut disambut dengan baik, tetapi tidak setiap tamu harus dipersilakan menetap selamanya. Kesedihan tidak perlu diusir seolah-olah ia musuh, dan kebahagiaan tidak perlu dirantai agar tidak pergi. Terimalah keduanya sebagai bagian dari perjalanan hidup, tanpa menjadikan salah satunya sebagai penghuni tetap di dalam hati. Sering kali manusia terlalu melekat pada emosinya. Ketika bahagia, ia merasa keadaan itu akan berlangsung selamanya. Ketika sedih, ia merasa hidupnya ...