Nabi Yusuf AS - Kesedihan Karena Dikhianati

 

Nabi Yusuf AS - Kesedihan Karena Dikhianati

Di dasar sumur yang gelap dan dingin itu, Nabi Yusuf AS duduk sendirian.

Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dinginnya batu-batu lembap, tetapi karena hatinya hancur oleh pengkhianatan yang tak pernah ia bayangkan datang dari darah dagingnya sendiri.


Beberapa saat lalu, mereka masih memanggilnya adik.

Beberapa saat lalu, ia masih berjalan bersama mereka dengan harapan dan kepercayaan penuh.

Namun kini, suara tawa dan langkah kaki para saudaranya menjauh, meninggalkannya di kedalaman sumur—seolah hidupnya tak lagi berharga.


Air matanya jatuh satu per satu, membasahi tanah.

Bukan karena takut mati, tetapi karena sakitnya dikhianati oleh orang yang paling ia cintai.

Ia teringat wajah ayahnya, Nabi Ya’qub AS—pelukan hangat yang kini terasa begitu jauh.

“Wahai Ayah…,” bisiknya lirih, “jika Engkau tahu betapa sepinya aku di sini…”


Di atas sana, cahaya hanya masuk sedikit, memperlihatkan bayangan para saudaranya yang berdiri tanpa belas kasihan.

Tak ada tangan yang terulur.

Tak ada penyesalan.


Yang ada hanyalah sunyi dan luka.

Namun di tengah kesedihan yang paling dalam, Nabi Yusuf AS mengangkat wajahnya ke langit sempit di atas sumur.

Air matanya bercampur dengan doa.

Ia tidak membenci.

Ia tidak mengutuk.

Ia hanya berserah.


“Ya Allah,” hatinya berdoa,

“jika ini jalan-Mu, aku terima.

Jika aku harus jatuh sejauh ini, jangan biarkan imanku ikut jatuh bersamanya.”

Sumur itu menjadi saksi:

bahwa orang yang paling disakiti, justru adalah orang yang paling dijaga oleh Allah.


Bahwa pengkhianatan manusia tidak pernah mampu menghapus rencana Tuhan.

Dan di dasar sumur yang gelap itu,

Allah sedang menyiapkan cahaya terbesar untuk seorang hamba yang hatinya tetap bersih meski dihancurkan oleh dunia.


Postingan populer dari blog ini

HADIS TARBAWI

Biografi Ibnu Abbas dan Tafsir di riwayatkan Fairuzzabaddi

Teks ceramah pidato kuliah tujuh menit KULTUM