Bahagia & Duka itu TAMU

 

Kutipan ini mengajarkan salah satu kebijaksanaan terdalam dalam perjalanan spiritual: jangan menjadikan keadaan batin yang sementara sebagai identitas dirimu. Baik kebahagiaan maupun kesedihan adalah bagian dari kehidupan. Keduanya datang, tinggal sejenak, lalu pergi. Yang membuat seseorang menderita bukan semata-mata karena kesedihan datang, melainkan karena ia berusaha mempertahankannya atau menolak melepaskannya.

Rumi menggunakan metafora yang indah. Ia menyebut duka dan bahagia sebagai tamu. Seorang tamu memang patut disambut dengan baik, tetapi tidak setiap tamu harus dipersilakan menetap selamanya. Kesedihan tidak perlu diusir seolah-olah ia musuh, dan kebahagiaan tidak perlu dirantai agar tidak pergi. Terimalah keduanya sebagai bagian dari perjalanan hidup, tanpa menjadikan salah satunya sebagai penghuni tetap di dalam hati.

Sering kali manusia terlalu melekat pada emosinya. Ketika bahagia, ia merasa keadaan itu akan berlangsung selamanya. Ketika sedih, ia merasa hidupnya telah berakhir. Padahal, kehidupan terus bergerak. Tidak ada musim yang abadi. Sebagaimana malam berganti pagi dan kemarau berganti hujan, demikian pula keadaan jiwa manusia.

Dalam tasawuf, keterikatan yang berlebihan kepada keadaan batin disebut sebagai salah satu penghalang perjalanan menuju Allah. Seorang salik tidak mengejar kebahagiaan sebagai tujuan akhir, dan tidak pula tenggelam dalam kesedihan. Yang ia cari adalah kedekatan kepada Allah, baik ketika diberi nikmat maupun ketika diuji. Sebab kebahagiaan dan kesedihan hanyalah keadaan (*ḥāl*), sedangkan tujuan sejati adalah keteguhan hati bersama-Nya.

Ini tidak berarti kita harus mematikan perasaan. Islam tidak mengajarkan manusia menjadi batu yang tidak menangis atau tidak bergembira. Rasulullah ﷺ pernah menangis ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya, dan beliau juga tersenyum ketika memperoleh kabar yang menggembirakan. Yang diajarkan adalah keseimbangan: merasakan emosi dengan jujur, tetapi tidak diperbudak olehnya.

Kebahagiaan pun dapat menjadi ujian jika membuat seseorang lupa bersyukur atau merasa tidak lagi membutuhkan Allah. Demikian pula kesedihan dapat menjadi jalan menuju kedewasaan jika membuat seseorang lebih dekat kepada-Nya. Karena itu, nilai sebuah perasaan tidak hanya ditentukan oleh jenisnya, tetapi oleh bagaimana ia mengubah hati kita.

Kutipan ini juga relevan dengan kehidupan modern. Banyak orang menghabiskan tenaga untuk mengejar kebahagiaan yang permanen, seolah-olah hidup tanpa kesedihan adalah tujuan utama. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, mereka merasa gagal. Padahal, kebahagiaan yang terus-menerus bukanlah sifat dunia. Dunia memang diciptakan sebagai tempat silih bergantinya nikmat dan ujian.

Maka, jangan membangun rumah bagi kesedihan dengan terus mengulang luka yang telah berlalu. Jangan pula membangun rumah bagi kebahagiaan dengan menggantungkan seluruh hidup pada kenikmatan yang suatu saat pasti berubah. Hati yang matang adalah hati yang mampu menerima keduanya tanpa kehilangan arah.

Pada akhirnya, manusia bukanlah kebahagiaannya, dan bukan pula kesedihannya. Semua itu hanyalah pengalaman yang singgah dalam perjalanan hidup. Yang tetap tinggal adalah jiwa yang terus belajar, bertumbuh, dan mendekat kepada Allah melalui setiap musim yang dilaluinya.

Sebab tamu memang datang dan pergi. Jangan mengusirnya dengan kebencian, tetapi jangan pula membangunkan rumah baginya di dalam batinmu. Sisakan ruang itu hanya untuk Allah, karena hanya Dia yang layak menetap selamanya di dalam hati seorang hamba. 

Postingan populer dari blog ini

Biografi Ibnu Abbas dan Tafsir di riwayatkan Fairuzzabaddi

HADIS TARBAWI

Teks ceramah pidato kuliah tujuh menit KULTUM