IBLIS & IKHLAS
Kamu mungkin membayangkan orang yang paling aman dari godaan setan adalah orang yang paling banyak ibadahnya. Yang shalatnya tidak pernah bolong. Yang hidupnya terlihat lurus dari luar.Tapi Al-Qur'an menggambarkan sesuatu yang berbeda. Ada satu kondisi di mana setan benar-benar menyerah. Bukan karena orang itu sempurna. Bukan karena tidak pernah jatuh.
Tapi karena ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat setan tahu, ia tidak akan berhasil di sana. Dan kondisi itu bukan yang selama ini kamu bayangkan.Sejak awal, setan sudah mengumumkan strateginya sendiri. Dengan jelas. Di hadapan Allah.
"Iblis berkata: 'Demi kemuliaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka." - QS. Shad: 82-83
Perhatikan kata yang ia gunakan. la tidak berkata, kecuali yang paling banyak shalatnya. la tidak berkata, kecuali yang tidak pernah berdosa. la tidak berkata, yang paling alim. Tetapi la berkata, kecuali yang ikhlas. Satu kata. Tapi bagi setan, itu adalah tembok yang tidak bisa ia tembus.
Lalu apa sebenarnya keikhlasan itu? Kita sering menyederhanakan ikhlas sebagai, tidak mengharap pujian. Tapi Al-Qur'an dan para ulama berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu. Ikhlas, dalam bahasa Al-Qur'an, adalah kondisi di mana hatimu sudah sepenuhnya berpaling kepada Allah. Bukan hanya dalam ibadah. Tapi dalam cara kamu menginginkan sesuatu, dalam cara kamu takut kehilangan, dalam cara kamu memandang dunia ini.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin menulis, orang yang ikhlas adalah orang yang tidak lagi peduli apakah manusia memujinya atau mencelanya, karena yang ia cari bukan ada di tangan manusia. Dan justru di sanalah pintu masuk setan menutup. Karena seluruh strategi setan bekerja melalui satu celah, kecintaanmu kepada sesuatu selain Allah yang melebihi kecintaanmu kepada-Nya.
Setan tidak menyerang dengan cara yang kasar dan terlihat jelas. la tidak datang memintamu meninggalkan shalat seketika. la tidak memintamu langsung melakukan yang besar-besar. Ia bekerja melalui yang halus, yang hampir tidak terasa. Melalui riya, mendorong kamu melakukan kebaikan, tapi agar dilihat. Melalui ujub, membuat kamu merasa sedikit lebih baik dari orang lain. Melalui sum'ah, mendorongmu berbicara tentang ibadahmu agar didengar.
Semua itu masih terlihat seperti ibadah dari luar. Tapi di dalamnya, ada sesuatu selain Allah yang sedang kamu kejar. Dan selama itu ada, setan masih punya ruang untuk bekerja. Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya: apa itu syirik kecil, ya Rasulullah? "Riya." - HR. Ahmad
Tapi ini bukan untuk membuatmu takut. Ini adalah undangan untuk melihat ke dalam, dengan jujur. Karena keikhlasan bukan sesuatu yang datang sekali dan selesai. la bukan pencapaian, ia adalah perjalanan. Setiap hari, setiap niat, setiap amal yang kamu kerjakan adalah kesempatan untuk memilih, untuk siapa ini?
Para ulama salaf sering menangis bukan karena dosa-dosa besarnya, tapi karena khawatir niatnya tidak lurus di balik amal-amal kecilnya. Bukan karena mereka lemah. Tapi karena mereka tahu, bahwa hati adalah sesuatu yang paling mudah berpaling tanpa terasa. "Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati." - HR. Bukhari & Muslim
Setan menyerah pada orang yang ikhlas, bukan karena orang itu tidak pernah jatuh. Tapi karena setiap kali ia jatuh, ia kembali kepada Allah. Bukan kepada pujian manusia. Bukan kepada pembuktian diri. Bukan kepada rasa bangga Kepada Allah. Dan setan tahu, selama seseorang terus kembali kepada Allah, tidak ada yang bisa ia lakukan. Mungkin hari ini kamu sedang jatuh. Sedang merasa jauh. Sedang merasa tidak layak.
Tapi selama kamu masih mau kembali, selama pintumu ke Allah masih terbuka, kamu sedang berada di jalan yang paling ditakuti setan. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri." - QS. Al-Baqarah: 222
