Gelisah & Syukur
Kegelisahan sering kali lahir bukan karena kehidupan terlalu sempit, melainkan karena manusia terus membandingkan anugerah yang dimilikinya dengan apa yang berada di tangan orang lain. Perbandingan itu menciptakan jarak antara kenyataan dan harapan, lalu mengubah rasa syukur menjadi keluhan yang tak pernah menemukan akhir. Padahal, setiap manusia hadir dengan perjalanan yang tidak dapat dipertukarkan.
Apa yang melekat pada diri seseorang bukanlah kesalahan yang harus disesali, melainkan titik awal untuk mengenali hikmah yang telah digariskan. Setiap kemampuan memiliki medan pengabdiannya, setiap keterbatasan menyimpan pelajaran tentang kerendahan hati, dan setiap keadaan mengandung kesempatan untuk bertumbuh. Tidak ada kehidupan yang sepenuhnya kosong dari makna selama hati masih mampu memandangnya dengan jernih.
Kedamaian bukan hadiah yang datang setelah semua keinginan terpenuhi. Ia tumbuh ketika seseorang berhenti mempersoalkan apa yang tidak diberikan, lalu memusatkan perhatian pada amanah yang telah dipercayakan kepadanya. Dari sanalah lahir ketenteraman yang tidak mudah diguncang oleh perubahan nasib ataupun gemerlap milik orang lain.
Hati yang berdamai dengan ketetapan akan menemukan keluasan dalam kesederhanaan. Kebahagiaan akhirnya bukan bergantung pada banyaknya yang dimiliki, melainkan pada kemampuan memuliakan setiap karunia sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Sang Pemberi.
