3 Potret Kesabaran

 


Kesabaran sering dipahami sebagai kemampuan bertahan menghadapi kesulitan. Padahal hakikat sabar jauh lebih dalam daripada sekadar menahan diri. Ia adalah cara seseorang menjaga hati agar tetap tenang, menjaga lisan agar tidak tergelincir, dan menjaga jiwanya agar tidak kehilangan adab di hadapan Allah maupun sesama manusia. Kesabaran bukan hanya tentang bagaimana kita menghadapi musibah, tetapi juga tentang bagaimana kita membawa diri ketika musibah itu datang.

Salah satu bentuk kesabaran adalah tidak menjadikan setiap penderitaan sebagai bahan untuk mencari belas kasihan manusia. Bukan berarti seseorang tidak boleh meminta pertolongan, berkonsultasi, atau berbagi cerita kepada orang yang dipercaya. Semua itu bisa menjadi bagian dari ikhtiar yang baik. Namun berbeda halnya jika setiap kesulitan selalu diumbar demi memperoleh simpati atau pengakuan. Ada kemuliaan dalam menjaga sebagian luka tetap menjadi rahasia antara diri kita dan Allah. Sebab tidak semua penderitaan harus diketahui oleh banyak orang agar memiliki makna.

Kesabaran juga terlihat dari kemampuan menjaga lisan agar tidak dipenuhi keluhan yang mengarah pada ketidakpuasan terhadap ketetapan Allah. Mengeluhkan rasa sakit kepada dokter, meminta bantuan kepada keluarga, atau mencurahkan isi hati dalam doa tentu bukanlah sesuatu yang tercela. Yang perlu diwaspadai adalah ketika keluhan berubah menjadi sikap yang terus-menerus mempertanyakan kebijaksanaan Allah atau menumbuhkan keputusasaan. Seorang mukmin boleh menangis, boleh merasa lemah, tetapi ia tetap berusaha memelihara keyakinan bahwa di balik setiap ujian ada hikmah yang belum sepenuhnya ia pahami.

Postingan populer dari blog ini

Biografi Ibnu Abbas dan Tafsir di riwayatkan Fairuzzabaddi

HADIS TARBAWI

Teks ceramah pidato kuliah tujuh menit KULTUM