Rahmat & Kebencian - Kisah Rasulullah
Ketika Rahmat Lebih Besar Dari Kebencian Madinah hari itu tidak sepenuhnya berduka. Kabar wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh munafik yang paling sering menyakiti Rasulullah-menyebar cepat. Sebagian orang menarik napas lega. Lidah-lidah berbisik, "Akhirnya ia pergi." Tidak sedikit yang berharap jenazahnya dilewati tanpa doa, tanpa penghormatan. Abdullah bin Ubay bukan orang biasa. Dialah yang paling sering memecah barisan kaum Muslimin, menebar fitnah, dan melukai hati Rasulullah dengan kata-kata yang kejam. Dari dialah bermula banyak luka dalam sejarah Madinah. Namun ketika nyawanya benar-benar pergi, sesuatu yang tak disangka justru terjadi. Rasulullah berdiri. Beliau mendatangi jenazah itu. Bukan dengan wajah puas, bukan pula dengan dendam yang akhirnya terbalas. Hati Nabi tidak diciptakan untuk bersorak di atas keburukan orang lain. Ketika anak Abdullah bin Ubay datang meminta agar ayahnya dishalati, Rasulullah tidak menolak. Bahkan beliau meminta kain ka...