Postingan

Abu Dzar Al-Ghifari: Kejujuran yang Diteriakkan di Tengah Ancaman

Gambar
  Abu Dzar Al-Ghifari: Kejujuran yang Diteriakkan di Tengah Ancaman Di antara orang-orang yang paling awal memeluk Islam (as-sābiqūnal awwalūn) adalah sahabat mulia Abu Dzar al-Ghifari ra. Ia berasal dari bangsa Arab pedalaman, dikenal fasih dalam berbahasa, lugas dalam berbicara, dan manis tutur katanya. Ketika sampai kepadanya kabar bahwa Muhammad ﷺ telah diutus sebagai Rasul Allah ﷻ, Abu Dzar diliputi rasa ingin tahu yang besar. Ia berkata kepada saudara laki-lakinya, “Naikilah kendaraanmu dan pergilah ke lembah itu. Cari tahu tentang seorang laki-laki yang mengaku sebagai nabi yang menerima wahyu dari langit. Dengarkan ucapannya, lalu ceritakan semuanya kepadaku.” Saudaranya pun berangkat menuju Makkah. Ia mendengar langsung perkataan Rasulullah ﷺ, lalu kembali kepada Abu Dzar dan berkata, “Aku melihatnya menyeru manusia kepada akhlak yang mulia, dan ucapannya bukanlah syair.” Namun Abu Dzar menjawab, “Aku masih belum puas dengan penjelasanmu.” Maka Abu Dzar pun mempersiapkan b...

HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN - Kisah Wali

Gambar
Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini. Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka : “Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya. “Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya. “Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?” “Tidak satupun” Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu. “Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan selu...

Rahmat & Kebencian - Kisah Rasulullah

Gambar
Ketika Rahmat Lebih Besar Dari Kebencian Madinah hari itu tidak sepenuhnya berduka. Kabar wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh munafik yang paling sering menyakiti Rasulullah-menyebar cepat. Sebagian orang menarik napas lega. Lidah-lidah berbisik, "Akhirnya ia pergi." Tidak sedikit yang berharap jenazahnya dilewati tanpa doa, tanpa penghormatan. Abdullah bin Ubay bukan orang biasa. Dialah yang paling sering memecah barisan kaum Muslimin, menebar fitnah, dan melukai hati Rasulullah dengan kata-kata yang kejam. Dari dialah bermula banyak luka dalam sejarah Madinah. Namun ketika nyawanya benar-benar pergi, sesuatu yang tak disangka justru terjadi. Rasulullah berdiri. Beliau mendatangi jenazah itu. Bukan dengan wajah puas, bukan pula dengan dendam yang akhirnya terbalas. Hati Nabi tidak diciptakan untuk bersorak di atas keburukan orang lain. Ketika anak Abdullah bin Ubay datang meminta agar ayahnya dishalati, Rasulullah tidak menolak. Bahkan beliau meminta kain ka...

TIKAI & GEMURUH

Oleh: ALR, Jaya Bhakti 26 Nov 2024 Di kepalamu ada mendung Di pikiran ku hnya ada tanya ada apa? Kita bertikai di balik badainya isi kepala Tapi masih saja berharap berdamai dgn tawa Bagaikan kayu pondasi yang hendak runtuh Kita yang saling menguatkan  Sebenarnya malah saling melemahkan. Yang harusnya berdua sama-sama harus saling menguatkan Dalam berucap & bersikap. Malah terlalu saling dgn egoisme masing-masing tanpa mau saling menerima. Gemuruh cuaca mu masih saja melanda Pada diriku yang menjadi penghuninya Sampah sampah emosi & tak trima kenyataan kian bertebrangan dgn ucapan yang tak sewajarnya. Tutup mulut ku dalam Diam Yang menunggu jedanya dirimu berkata Luapkan saja. Asalkan tak ada benci & dendam yang membara, agar dirimu tak malah sengsara. Smua sepi menghening & tersisa degup angin Aku hnya berkata sabar & trima keadaanya. Kita hanyaLah penumpang dalam prahunya, Esok mau seprti apa juga tak bisa di terka, tapi yang perlu menjadi makna ...

Salah & Lebur

Oleh: LUQMAN NEGARA Dabuk Rejo, 2 Oktober 2024 Bagaimana mau mengenal yang maha benar.  Kalo diri sendiri tak mau di salahKan & merasa paling benar? Faktanya menjadi baik itu bukanLah perkara sulit, yang sulit ialah menjaga agar selalu berbuat baik. Setelah mendapatkan sesuatu, mampukah menjaga agar selalu utuh & tak rusak? Manusia hanyaLah manusia, sebab ia lupa, salah & bahkan berdosa ituLah yang membuat ia menjadi manusia. Manusia akan selalu menjadi tidak tau & bertanya-tanya dgn smua hal. SekaliPun ia sdah menguasai & menjadi ahli, akan tetapi secara menusiawi bisa lupa atauPun amnesia. Tanpa pertolongan/ma'unah sang kuasa, Manusia hanyaLah bangkai yang bernyawa. Memahami tanpa menjalani itu layaknya berkata api itu panas tapi tak pernah merasakan perih karna terbakarnya. Perkara rasa beda orang tentu beda cerita, akan tetapi yang mampu menjadi bersama ialah perjalanannya. Jangan terlalu mengeluh & menggrutu mululu, Sebab ada banyak cobaan yang belum di...

Tanah Ibu Pertiwi

Oleh: LUQMAN NEGARA Sukaraja, 12 Sept 2023 Tanah ini dahulunya subur Sesubur cinta seorang ibu terhadap anaknya Tanah ini dahulunya masyhur Semasyhur cinta Nabi terhadap ummatnya Tanah ini juga di sebut tanah para wali & ulama Karna kuat & kokohnya pewaris nabi di negri ini Tapi itu dulu, Sebelum ketamakan pemimpin  Merajalela Tapi itu dulu, Sebelum para pemimpin Lupa akan kasih sayangnya Bila hilangnya ilmu di tandai dgn wafatnya  Para ulamanya.  Maka Gersangnya bumi  di tandai dgn noda  dosa penghuninya. Kesengsaraan bumi di tandai dgn cinta yang kehilangan rasa sayangnya.  Ibu Pertiwi telah meringis & menangis Karna anak semata wayangnya terluka Ibu Pertiwi mengiba karna terjajahnya Penduduk sebab sikap pemimpinnya Marilah Sejengkal demi jengkal melangkah  Marilah perbarui diri untuk Berubah & Berkiprah Bergeraklah untuk melindungi & melestari Warisan kakek moyang tak hanya untuk di bangga saja,  Melainkan untuk di jaga ...

Candanya Cinta

 Oleh: LUQMAN NEGARA Jaya Bhakti, 3 Sept 2023 Sesampainya & Semampunya ku lalui.  Terkadang terbesit ingin Mengeluh tapi Lisan masih saja Keluh. Terkunci & terkatup rapat untuk tidak ber-sependapat. Tak mau menyampaikan kesuh & kesahnya menjadi kisah. Hati slalu berbisik lirih seraya berkata:  "Kau kuat & pasti sanggup melewatinya". Semua tersimpan dalam sebongkah Hati dgn rapat. Yang hanya selalu berdiskusi rapi dalam rapatnya antara Hati & Fikiran. Semua tercurah & terarah dalam dekapnya peluk pada sujud. Wahai pemilik Langit & Bumi Wahai pemilik semsta & isinya Wahai pemilik raga mungil ini Saat ini yang ku miliki hanyaLah engkau saja. Saat ini yang berharga hanyaLah engkau saja.  Maafkan hamba bila masih saja mengeluh dgn candanya cinta yg ku terima. Ku tau, Engkau hanya ingin diri ini layak sebagai yang engkau cinta. Ku tau,  Haqqul yaqin mu lebih dari yang hamba kira. Tak lain hal ku mohon pada mu, kuat-kan, kokoh-kan & ...